Jakarta, Pengurus Asosiasi Media Konvergensi Indonesia DKI Jakarta menggelar Talkshow dengan Thema “Lebih Berkah Pembiayaan Syariah Bagi Pelaku UMKM Produk Halal” yang dilaksanakan di hotel Harper MT Haryono, Cawang, Kamis, (26/2) 2026)
Hadir sebagai Narasumber, Fery dari Bank Syariah Nasional (BSN), Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham dengan Moderator Agung Sudjatmoko, dosen Universitas Binus, Sudaryano R. Lamangkona, staf ahli Menteri UMKM Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga memberikan sambutan penutup.
Talkshow dibuka oleh MC dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan pemaparan oleh Fery dari Bank Syariah Nasional yang menjelaskan sejarah berdirinya Bank Syariah Nasional dan kiprahnya selama ini membantu pelaku bisnis usaha termasuk usaha mikro kecil di Indonesia.

Sejarah bank syariah nasional dimulai dengan berdirinya Bank Muamalat pada 1 November 1992, sebagai pionir bank syariah di Indonesia. Perkembangan berlanjut dengan berdirinya Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 1 Februari 2021 melalui merger bank syariah BUMN, serta lahirnya Bank Syariah Nasional (BSN) pada Oktober 2025 dari spin-off UUS BTN Syariah. ujar Fery
Lebih lanjut dirinya berharap agar pelaku usaha mikro kecil dan menengah dapat menjadi Mitra setrategis dan BSN siap membantu memberikan permodalan bagi Pelaku usaha kecil yang baru termasuk juga yang sudah menjadi mitra BSN.
Sementara itu, pembicara kedua Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham dalam paparan mengatakan ” BPJPH terus mendorong penguatan sinergi lintas sektor dalam memperkuat daya saing UMKM produk halal, ujarnya.
Muhammad Aqil Irham menegaskan bahwa penguatan UMKM produk halal tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor. Penguatan tersebut dilakukan dengan terus memperkuat sosialisasi, edukasi, literasi, hingga fasilitasi dan pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku UMK.
“Jumlah UMK kita sangat besar dan tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga dibutuhkan sinergi dan kolaborasi semua pihak untuk membantu para pelaku UMK agar bersertifikat halal.” ungkapnya.
Lebih lanjut, Muhammad Aqil Irham mengatakan bahwa saat ini tren pasar menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap produk halal semakin meningkat. Sehingga, pelaku UMKM perlu merespons ini dengan serius. “UMKM kita harus mengikuti perkembangan pasar.
Konsumen hari ini semakin selektif dalam memilih produk. Bahkan anak-anak Gen-Z saja sekarang kalau di mall atau di tempat-tempat umum kalau mau makan nanya dulu, ini sudah (bersertifikat) halal belum? Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan daya saing,” tuturnya.
Kesadaran masyarakat akan produk halal semakin meningkat, maka label halal kini bukan sekadar sebagai pemenuhan kepatuhan regulasi semata, tetapi telah menjadi variabel penting ekonomi.
“Karena itu, BPJPH hadir untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku UMK melalui berbagai kebijakan, termasuk program fasilitasi sertifikasi halal gratis atau SEHATI. Setiap tahunnya, kami mengalokasikan anggaran untuk memfasilitasi pembiayaan sertifikasi halal UMK yang jumlahnya terus naik. Tahun ini meningkat sebanyak 1,35 juta sertifikat halal gratis dari tahun 2025 sebanyak 1,1 juta sertifikat.” lanjutnya.
Namun jumlah ini tentu kecil jika dibandingkan dengan jumlah UMK yang begitu besar. Sehingga perlu kolaborasi melibatkan semua pemangku kepentingan terkait. Untuk itu, BPJPH terus memperluas kolaborasi dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN, sektor swasta, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya guna mempercepat akses sertifikasi halal bagi UMKM. Pendekatan kolaboratif ini dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem halal nasional.
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga, Sudaryano R Lamangkona, menekankan hal senada tentang pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung penguatan UMKM, termasuk melalui pembiayaan syariah. Menurutnya, dukungan pembiayaan yang inklusif dan sesuai prinsip syariah menjadi instrumen penting untuk memperkuat UMKM produk halal.
“Kita harus bersama-sama membangun UMKM untuk mendorong peningkatan perekonomian nasional. Saya berharap AMKI juga terus berperan aktif dalam mengedukasi dan mensosialisasikan pentingnya pembiayaan syariah serta penguatan UMKM halal kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Direktur Consumer Bank Syariah Nasional (BSN), Mochamad Yut Penta, mengatakan bahwa bank syariah sangat strategis dalam penguatan UMKM produk halal, terutama melalui penyediaan pembiayaan yang sesuai prinsip syariah dan berkeadilan. Skema pembiayaan syariah memberikan alternatif permodalan yang lebih inklusif bagi pelaku UMKM, sekaligus mendorong tata kelola usaha yang lebih baik. Selain itu, bank syariah dapat mengintegrasikan pembiayaan dengan program pendampingan usaha, sehingga pelaku UMKM tidak hanya memperoleh akses modal, tetapi juga penguatan kapasitas manajerial dan keberlanjutan bisnisnya.
Di sisi lain, bank syariah juga berperan dalam memperkuat ekosistem halal melalui sinergi dengan regulator, lembaga sertifikasi, dan pemangku kepentingan lainnya. Dukungan pembiayaan untuk proses sertifikasi halal, pengembangan produk, hingga ekspansi pasar menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing UMKM halal.
Usai talk show dilakukan pembagian santunan kepada anak yatim yang diberikan langsung oleh seluruh pembicara secara bersamaan kepada yang berhak menerima dan diakhiri dengan buka puasa bersama.
