Semarang, 7 Desember 2025 – Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) sukses menyelenggarakan Kongres I dan Rapat kerja nasional (Rakernas) VII yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari 5 hingga 7 Desember 2025, bertempat di Hotel Metro, Semarang.
Acara ini menjadi momen penting dan bersejarah bagi organisasi dalam pengambilan keputusan strategi organisasi, sekaligus sebagai momentum konsolidasi seluruh anggota, untuk membumikan Pancasila di bumi Indonesia.
Acara ini diawali dengan sambutan sekaligus laporan kegiatan oleh Ketua Panitia, Dr.Gunawan Djayaputra, S.H., S.S., M.H. Beliau menyampaikan apresiasi dan berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak, khususnya dari BPIP, atas terlaksananya Kongres I GPP. Hal ini menunjukkan semangat kolektif-gotong-royong sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Acara dimeriahkan dengan suguhan budaya yang memukau, yaitu Tari Bunga Rambe Nusantara dari DPD GPP Jawa Tengah yang melambangkan kekayaan warisan budaya bangsa, serta lagu persembahan “Ibu Pertiwi”, dari DPC Pontianak Kalimantan Barat, yang melukiskan Betapa Pertiwi sedang berduka, dengan berbagai peristiwa sedih yang terjadi.
Acara pembukaan dilanjutkan dengan sesi internal, yaitu perkenalan pengurus DPP GPP dan pemberian serta penyematan cenderamata kepada pengurus DPP GPP.
“Kongres pertama ini adalah momentum bersejarah bagi organisasi yang dideklarasikan pada 1 Juni 2019, dan menegaskan bahwa meskipun GPP telah melalui banyak suka dan duka selama enam tahun berdiri, namun dengan semangat gotong royong bersama, organisasi dapat berjalan dengan baik.” Tutur Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si, selaku ketua Umum DPP GPP dalam sambutannya.
Dr. Antonius juga menegaskan rasa bangga atas peringatan 80 Tahun kemerdekaan Indonesia dan Hari Lahir Pancasila. Beliau mengingatkan dua cita-cita Revolusi nasional; pertama, membangun masyarakat sosialisme Indonesia tanpa adanya penindasan dalam masyarakat, dan kedua, mengingatkan pidato Sukarno pada 30 September 1960, yaitu membangun Dunia Baru, karena keyakinan bahwa Pancasila adalah ideologi yang dapat menjadikan dunia lebih baik.
Antonius Manurung menutup amanatnya dengan seruan, “Kita satu-paduan kekuatan kita. Hanya dengan ajaran itu maka dunia akan lebih baik.”
Selanjutnya, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Wisnu bawa Tenaya, yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pengarah BPIP RI Sekaligus ketua Dewan Pembina DPP GPP,secara lugas menyampaikan dalam sambutannya bahwa pentingnya peran Pancasila sebagai ideologi yang hidup. Beliau menggaris bawahi fakta historis sejak lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 dan menekankan pentingnya edukasi agar Pancasila ini diketahui asal-usulnya oleh generasi ke generasi, serta hidup terus dari bangsa-bangsa, tidak dapat dipisahkan dari kemerdekaan Republik Indonesia.
Kedudukan Pancasila identik yang diakui oleh Sukarno sebagai dasar dan falsafah bangsa, di akui sebagai sumber hukum serta secara tegas sebagai ideologi bangsa yang diakui oleh negara. Beliau menyebut Pancasila adalah panah hidup Indonesia yang akan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,
Adapun di bidang Kebudayaan, Prof. Muhamad Sabri menegaskan agar nilai gotong royong dan karakter religius bangsa dipertajam dan disinergikan sebagai kekuatan moral. Implementasi Trisakti secara keseluruhan adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum yang berkebudayaan demi mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata.
Terakhir,Dr.Bondan Kanumoyoso, M.Hum menggaris bawahi tentang implementasi yang harus dilaksanakan oleh seluruh peserta dalam membumikan Pancasila, sesuai kapasitas masing-masing.
Acara diskusi publik selesai, di lanjutkan acara Kongres I GPP yang dihadiri dari berbagai daerah di Indonesia.
Kongres I GPP ini memiliki agenda yaitu menerima laporan pertanggung jawaban DPP GPP, Mengubah atau menyempurnakan serta menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran RumahTangga (AD/ART), menetapkan Program dan Garis Perjuangan Organisasi, serta menetapkan atau Pemilihan Ketua Umum yang baru, yang sekaligus bertindak sebagai formatur tunggal untuk menyusun personalia DPP GPP periode 2025 -2030.
Kongres I ini sangat strategis mengingat Kongres di laksanakan setiap 5 tahun sekali dan merupakan kekuasaan tertinggi dalam organisasi.
Musyawarah dan mufakat sidang yang dipimpin Drs.Hendrikus Clement dari Kalimantan Barat, menghasilkan kesepakatan memilih kembali Mayor Jenderal TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya sebagai Ketua Pembina GPP 2025-2030, dan Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si.selaku Ketua Umum GPP 2025-2030, serta memilih Prof. Dr. Drs Adv Ganjar Razuni, S.H., M.Si. selaku Ketua Dewan Pakar GPP 2025-2030 dan Prof. Dr.Drs.ErmayaSuradinata, S.H., M.H., M.S. selaku Ketua Dewan Pengawas DPP GPP. Konsensus ini menunjukkan kesinambungan kepemimpinan dan kepercayaan penuh para peserta Kongres terhadap visi dan misi pimpinan terpilih dalam menahkodai GPP lima tahun kedepan.
Acara selanjutnya melaksanakan RAKERNAS yang dihadiri pimpinan DPD GPP dari berbagai daerah.
Rakernas ini berfokus pada penyusunan dan sinkronisasi program kerja strategis yang berlandaskan hasil-hasil Kongres, terutama terkait dengan penguatan kaderisasi, perluasan jangkauan program pembumian Pancasila di tingkat akar rumput,serta penguatan sinergi dengan berbagai lembaga negara, khususnya BPIP RI.
Pembahasan di Rakernas meliputi penetapan target operasional, alokasi sumberdaya, dan rencana aksi untuk implementasi dua cita-cita Revolusi Nasional yang telah dicanangkan oleh Ketua Umum GPP.
Seluruh rangkaian Kongres I dan Rakernas VII GPP yang berjalan lancar dan penuh dinamika kekeluargaan ditutup oleh Ketua Umum GPP 2025-2030 terpilih, Dr.Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si. Dalam sambutan penutupnya Antonius Manurung menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, peserta, dan pimpinan sidang atas kontribusi dan dedikasi yang luar biasa, sembari menekankan kembali komitmen GPP untuk terus bergotong royong dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan beradab berdasarkan pancasila.
