• Thu. Oct 1st, 2026

www.jakarta-tv. com

Robby Sumolang : Kesaksianku Sebagai Tahanan Politik G30S PKI

Byadmin

Oct 1, 2026

JAKARTA — Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Robby Sumolang, menceritakan pengalaman hidupnya ketika ditangkap aparat pada 1967 dan kemudian menjalani masa tahanan politik hingga dibebaskan pada 1978.

Dalam keterangannya kepada VOC News Rendy Wolayan yang mewawancarainya, pada Selasa,(30/9/2026) disalah satu kawasan di Jakarta Utara, , Robby Sumolang mengungkapkan bahwa penangkapannya terjadi setelah ia berpindah tempat tinggal di Jakarta.

Saat itu, ia menyebut dirinya sempat tinggal di kawasan Jalan Gajah Mada sebelum pindah karena masa kontrak rumah berakhir.

“Saya memang benar ditangkap di Jakarta karena pindah-pindah tempat. Waktu itu kontrak rumah habis sehingga saya harus pindah pindah. Rupanya perpindahan itu tercium aparat dan akhirnya saya ditangkap,” ujar Robby Sumolang.

Menurut Robby Sumolang, dirinya ditangkap oleh aparat dari Kodam Jaya. Ia menyebut seorang anggota berpangkat kopral bernama Acep sebagai salah satu petugas yang melakukan penangkapan tersebut sesuai keterangan Koran Independen Nusantara yang terbit tanggal 19 Mei 1967.

Setelah ditangkap, Robby Sumolang mengaku dibawa dan ditahan di Kodam Jaya sebelum kemudian dipindahkan ke tahanan Salemba, Jakarta. Ia menyebut Blok M Salemba ketika itu menjadi tempat penahanan sejumlah tahanan politik. “Di sana ada berbagai tahanan politik, termasuk orang-orang yang berkaitan dengan peristiwa 1965,” katanya.

Robby kemudian mengungkapkan bahwa dirinya bersama sejumlah tahanan lainnya akhirnya dikirim ke Pulau Buru. Ia mengatakan masa penahanannya berlangsung hingga 1978.

Selama berada di Pulau Buru, Robby mengaku dipercaya membantu mendistribusikan kebutuhan konsumsi kepada sesama tahanan, seperti beras. Kepercayaan tersebut, menurut dia, antara lain karena hubungan baiknya dengan salah seorang penjaga yang berasal dari Manado.

Robby Sumolang Membantah IPPI sebagai Underbouw PKI

Dalam kesempatan tersebut, Robby juga memberikan klarifikasi mengenai tudingan bahwa IPPI merupakan organisasi yang berafiliasi atau menjadi underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI), IPPI adalah organisasi Pelajar dan Pemuda yang Mendukung Presiden Soekarno yang anti Kapitalisme dan Imperialisme.

Robby Sumolang menegaskan bahwa menurut pengalamannya, IPPI bukan organisasi bawahan PKI. Ia mengaku bergabung dengan organisasi tersebut dalam konteks perjuangan kepemudaan dan pelajar serta pengalaman politik yang berkembang sejak masa pergolakan daerah pada akhir 1950-an dan memimpin Pemuda dan pelajar sejak tahun 1961 sejak itu Bung Karno sering memanggil dan berdiskusi dengannya mengenai perjuangan pemuda pelajar Indonesia.

“Sebenarnya saya tidak tertarik dengan PKI. Saya masuk IPPI karena ingin membela negara . Saat itu banyak pelajar ditarik untuk ikut membela negara,” ujar Robby Sumolang.

Ia mengatakan ayahnya merupakan seorang nasionalis yang mendorong dirinya untuk ikut mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut Robby, IPPI telah berdiri dan bergerak dalam perjuangan kemerdekaan sejak masa awal Republik Indonesia 1945. Ia menyebut organisasi tersebut memiliki anggota dalam jumlah besar dan mempunyai jaringan hingga ke berbagai daerah jumlahnya sekitar 300.000 orang.

“IPPI bukan PKI. Anak-anak IPPI saat itu adalah anak-anak muda yang belajar, berjuang dan bekerja keras,” katanya.

Robby juga mengungkapkan bahwa sekitar 50 anggota IPPI menurut pengetahuannya ikut dibawa ke Pulau Buru sebagai tahanan politik bersama dengan 15.000 orang lainya.

Robby bersaksi Pernah dekat dengan Bung Karno dan Robby juga menceritakan hubungan dengan para aktivis pelajar dengan arahan dari Presiden Soekarno. Menurutnya, pada masa pemerintahan Soekarno, para pimpinan organisasi pelajar kerap mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan Presiden Soekarno bahkan sekolah dan belajar diluar negeri.

Ia mengenang sebuah peristiwa ketika dirinya menghadiri dan memimpin Kongres IPPI pada 1964 di GBK . Saat itu, menurut Robby Sumolang, Presiden Soekarno hadir dan memberikan sambutan.

Robby mengaku dipanggil Soekarno ke atas mimbar setelah menyampaikan pidato. Dalam kesempatan tersebut, Soekarno disebut menukarkan peci dengan penutup kepala yang dikenakan Robby.

“Bung Karno mengambil peci saya dan kemudian memasangkannya kepada beliau. Sebaliknya, peci Bung Karno dipasangkan kepada saya,” tutur Robby.

Menurutnya, dokumentasi berupa foto peristiwa tersebut masih disimpan hingga sekarang.
Robby mengatakan dirinya dipercaya menjadi Ketua Umum IPPI pada 1964 ketika usianya sekitar 23 tahun.

Hubungan dengan Organisasi Lain
Mengenai hubungan IPPI dengan organisasi yang berafiliasi dengan PKI, Robby mengatakan hubungan yang terjadi pada masa itu lebih banyak berupa hubungan sosial antarlembaga.

“Hubungannya lebih kepada silaturahmi. Mereka saling mengenal karena sama-sama organisasi. Tetapi masing-masing berjalan sesuai komando organisasinya,” ujarnya.
Ia menilai pelabelan terhadap IPPI sebagai underbouw PKI perlu dilihat dalam konteks politik pada masa itu.

Robby mengatakan dirinya dan sejumlah anggota IPPI kemudian menjadi korban dari situasi politik setelah perubahan kekuasaan.

“Banyak tahanan politik pada waktu itu sebenarnya tidak mengetahui persoalan yang dituduhkan kepada mereka. Mereka menjadi korban politik,” katanya.

Menghirup Kebebasan pada 1978
Setelah sekitar satu dekade menjalani tahanan, Robby mengatakan dirinya dibebaskan dari Pulau Buru pada 1978.

Pasca bebas, ia mengaku tetap melakukan berbagai kegiatan sosial. Salah satunya adalah mengunjungi tahanan politik yang masih berada di lembaga pemasyarakatan.

Ia menceritakan pernah mendapat informasi mengenai seorang pendeta bernama Rebecca yang ditahan di Indramayu. Robby Sumolang kemudian berupaya mengunjunginya.

Menurut Robby Sumolang, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa setelah bebas dari Pulau Buru, ia tetap merasa terpanggil untuk membantu orang-orang yang masih menjalani masa tahanan.

Bantahan Terhadap Tuduhan Kekerasan
Robby juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan pembunuhan maupun penganiayaan terhadap lawan politik selama masa pergolakan politik.
“Saya tidak pernah melakukan pembunuhan. Kami bukan tentara. Kami rakyat biasa,” tegasnya.

Ia mengatakan dirinya dan anggota IPPI yang lain lebih banyak bergerak dalam kegiatan kepemudaan dan pelajar.

Kisah Robby Sumolang tersebut menjadi bagian dari kesaksian sejarah mengenai pengalaman tahanan politik pada periode perubahan politik Indonesia pada 1960-an hingga akhir 1970-an.

Sejumlah klaim sejarah yang disampaikan dalam wawancara tersebut, termasuk jumlah anggota organisasi, status hubungan IPPI dengan organisasi politik tertentu, serta kronologi penahanan, masih memerlukan pencocokan dengan arsip dan sumber sejarah independen untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *