JAKARTA — Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menggelar rilis program prioritas serta capaian dan transformasi layanan kesehatan nasional. Kegiatan berlangsung di Auditorium Kantor Bakom RI, Jalan Veteran III, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Bakom RI Muhammad Qodari dan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono.
Dalam pemaparannya, Wamenkes Dante Saksono menyampaikan sejumlah agenda pemerintah di bidang kesehatan, mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, penguatan deteksi dini penyakit tidak menular, hingga percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC).
Bangka Belitung dan Dki Jakarta adalah dua provinsi tertinggi mengidap TBC, ujarnya.
Menurut Dante, transformasi kesehatan diarahkan tidak hanya untuk menemukan masyarakat yang mengalami masalah kesehatan, tetapi juga memastikan mereka memperoleh tindak lanjut dan pengobatan.
Salah satu program yang disoroti adalah pemeriksaan kesehatan gratis. Program tersebut terus diperluas dengan dukungan sistem informasi kesehatan, termasuk pemanfaatan platform SATUSEHAT, sehingga hasil pemeriksaan masyarakat dapat ditindaklanjuti secara lebih terintegrasi.
“Yang diketahui sakit nanti akan langsung diobati,” demikian pokok penjelasan Dante dalam paparannya.
Tekan Hipertensi dan Diabetes
Dante mengatakan, hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan sejumlah penyakit tidak menular masih menjadi persoalan penting di masyarakat. Di antaranya hipertensi dan diabetes.
Menurutnya, deteksi dan penanganan sejak dini diperlukan untuk mencegah berkembangnya penyakit menjadi komplikasi yang lebih berat, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke hingga penyakit ginjal kronis (CKD).
“Kalau kita bisa melakukan tata laksana lebih awal dari hipertensi, diabetes dan lainnya, maka kita bisa menjaga orang-orang ini agar tidak masuk ke dalam penyakit jantung dan pembuluh darah seperti stroke,” ujar Dante.
Ia menjelaskan, manfaat dari intervensi kesehatan tersebut tidak seluruhnya dapat dirasakan dalam waktu singkat. Sebagian dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang, termasuk terhadap kualitas kesehatan penduduk, angka harapan hidup dan bonus demografi.
Penanganan Tuberkulosis
Selain penyakit tidak menular, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap penanggulangan tuberkulosis.
Dante menyebut strategi penanganan TBC dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni memperkirakan jumlah kasus, menemukan atau mengidentifikasi penderita, memberikan pengobatan, serta melakukan pemantauan terhadap proses pengobatan.
Upaya penemuan kasus dilakukan melalui berbagai fasilitas dan komunitas, termasuk puskesmas, layanan kesehatan komunitas, fasilitas kesehatan swasta dan titik-titik pemeriksaan yang ditentukan berdasarkan tingginya potensi kasus.
Pemerintah juga mendorong penguatan pencegahan TBC melalui terapi pencegahan bagi kelompok yang berisiko.
Selain itu, inovasi pengobatan turut menjadi bagian dari strategi penanggulangan TBC. Dante menjelaskan adanya penggunaan regimen obat yang lebih singkat dibandingkan pola pengobatan sebelumnya, dengan tujuan meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.
Pemerintah juga mendorong pemberdayaan desa dan kelurahan dalam penanggulangan TBC. Kader kesehatan di tingkat masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam membantu menemukan kasus, memberikan edukasi serta mendorong masyarakat menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
Energi Surya Dukung Transformasi Berkelanjutan
Dalam rangkaian pemaparan program prioritas tersebut, juga disampaikan agenda pengembangan energi baru terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Program PLTS berskala besar diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik yang bersih dan berkelanjutan. Indonesia dinilai memiliki potensi energi surya yang besar karena kondisi geografis sebagai negara tropis.
Materi yang dipaparkan menyebut potensi energi surya Indonesia mencapai sekitar 3.294 GWp, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.
Namun, pemanfaatannya saat ini masih jauh di bawah potensi tersebut. Hingga Agustus 2026, kapasitas PLTS terpasang secara nasional disebut sekitar 1,76 GW.
Program pengembangan PLTS juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi, antara lain mengurangi penggunaan bahan bakar diesel, menekan emisi gas rumah kaca, membuka peluang investasi serta menciptakan lapangan kerja.
Pengembangan PLTS dirancang mencakup berbagai segmen, mulai dari rumah tangga, bisnis dan komersial, industri, fasilitas sosial hingga gedung pemerintah.
Khusus PLTS atap, sektor industri dan komersial disebut memiliki potensi kapasitas yang besar karena umumnya memiliki area atap yang luas serta kebutuhan listrik yang tinggi pada siang hari.
Pemerintah juga mempertimbangkan berbagai aspek dalam menentukan lokasi pengembangan PLTS, antara lain kapasitas pembangkit, teknologi yang digunakan, kondisi jaringan listrik, kesesuaian tata ruang, aspek lingkungan, kesiapan industri dalam negeri serta ketersediaan pembiayaan.
Melalui berbagai program tersebut, pemerintah menempatkan transformasi kesehatan dan pengembangan energi bersih sebagai bagian dari agenda pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Dalam bidang kesehatan, fokus diarahkan pada pencegahan, deteksi dini, pengobatan dan penguatan layanan kesehatan. Sementara dalam sektor energi, pengembangan PLTS diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
