JAKARTA — Pernyataan mengenai perjalanan politik Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali mengemuka. Nehemia Lawalata, S.E., yang menyebut dirinya pernah menjadi sekretaris pribadi Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, mengungkap kesaksiannya bahwa Prabowo telah dipersiapkan oleh ayahnya untuk menjadi pemimpin nasional sejak dekade 1990-an.
Menurut Nehemia, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, ekonom senior dan tokoh yang dikenal memiliki pemikiran mengenai demokrasi ekonomi serta koperasi, telah memberikan tugas kepadanya untuk berkeliling Indonesia menyampaikan gagasan-gagasan ekonomi dan politik sekaligus belajar dari masyarakat.
Nehemia mengatakan, setelah menjalankan tugas tersebut hingga sekitar 1994, dirinya kembali bertemu dengan Prof. Soemitro. Dalam pertemuan itu, menurut kesaksiannya, Soemitro mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut berkaitan dengan visi jangka panjang untuk mempersiapkan Prabowo sebagai pemimpin Indonesia.
“Saya saksi hidup bahwa Prabowo sudah lama dipersiapkan menjadi Presiden RI,” ujar Nehemia.
Kesaksian tersebut sebelumnya juga pernah diberitakan sejumlah media pada 2025. Dalam pemberitaan tersebut, Nehemia menyebut tugas yang diterimanya dimulai pada 29 Mei 1990 dan berlangsung hingga 1994. Ia mengatakan Soemitro menyampaikan visi untuk mempersiapkan seorang pemimpin besar bagi Indonesia.
Demokrasi Ekonomi dan Ekonomi Kerakyatan
Nehemia menjelaskan bahwa gagasan yang diwariskan Prof. Soemitro tidak hanya berkaitan dengan kepemimpinan politik, tetapi juga mengenai pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat.
Menurut dia, demokrasi ekonomi, koperasi, ekonomi kerakyatan, serta prinsip musyawarah mufakat merupakan bagian penting dari pemikiran tersebut.
Ia berpandangan, dalam kondisi Indonesia saat ini, gagasan tersebut perlu diterjemahkan melalui kebijakan yang memastikan hasil pembangunan dan kekayaan alam dapat memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.
“Rakyat harus dijamin kesejahteraannya dan hasil bumi Indonesia benar-benar dinikmati seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali,” kata Nehemia.
Ia juga menyampaikan bahwa prinsip kemandirian bangsa, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945 harus menjadi landasan dalam menjalankan pembangunan nasional.
Nehemia menegaskan bahwa menurut pemahamannya, ajaran Prof. Soemitro menolak ketergantungan terhadap kekuatan asing maupun ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, serta menempatkan kepentingan rakyat sebagai dasar pembangunan ekonomi.
Dinilai Memiliki Pengalaman dan Ketegasan
Dalam kesaksiannya, Nehemia menyebut Prof. Soemitro melihat Prabowo sebagai sosok yang memiliki keberanian dalam mengambil keputusan serta pengalaman dalam menghadapi situasi yang kompleks.
Pandangan tersebut, menurut Nehemia, menjadi bagian dari alasan mengapa Prabowo dipandang memiliki kapasitas untuk memimpin Indonesia pada masa mendatang.
Nehemia juga menekankan pentingnya mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat bersikap rasional dalam melihat perkembangan bangsa.
Menurut dia, kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan sebagai bagian dari demokrasi. Namun, kritik dan masukan tersebut diharapkan disampaikan dalam kerangka membangun bangsa serta menjaga persatuan nasional.
Pernyataan Nehemia tersebut disampaikan dalam rangkaian pembicaraan dengan sejumlah aktivis dan tokoh pergerakan di Jakarta.
Sehari setelahnya, Rabu (23/9/2026), sejumlah tokoh dan aktivis yang tergabung antara lain dalam Malesung Banyumas, PA GMNI, serta Gerakan Pusat Kebaktian Rakyat Sulawesi Indonesia (GP KRIS) menggelar silaturahmi di sebuah tempat, di Jakarta Pusat.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Umum Malesung Banyumas Rendy Wolayan, Nehemia Lawalata, Wellem Aer, Bobby Runturambi, Jopie Mandang, serta Presidium GP KRIS Lemens Kodongan.
Forum tersebut membahas perkembangan politik nasional, kondisi sosial dan kebangsaan, serta pentingnya menjaga persatuan di tengah dinamika politik.
Para peserta juga menyampaikan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan menilai partisipasi masyarakat tetap diperlukan untuk mengawal jalannya pemerintahan.
Rendy Wolayan dalam pertemuan itu turut menyampaikan profil dan perjalanan aktivisme Nehemia Lawalata. Nehemia diketahui pernah aktif dalam kepengurusan Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI). Arsip organisasi PA GMNI juga mencatat nama Nehemia Lawalata dalam struktur kepengurusan organisasi tersebut.
Mengawal Pemerintahan dan Menjaga Persatuan
Pertemuan tersebut menekankan pentingnya komunikasi antarelemen masyarakat dalam menghadapi dinamika politik nasional.
Para peserta berpandangan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi dan perlu disikapi melalui dialog serta musyawarah.
Mereka juga berharap pemerintahan Prabowo Subianto dapat menjalankan mandat konstitusi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta menjaga kemandirian bangsa.
Silaturahmi antar aktivis di Jakarta itu direncanakan kembali digelar pada pekan berikutnya dengan mengundang sejumlah tokoh pergerakan nasional.
Pertemuan lanjutan tersebut diharapkan menjadi ruang konsolidasi dan pertukaran gagasan untuk menjaga persatuan serta memberikan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. (Leko)
